Belajar Komputer

  • Hello world! - WordPress へようこそ。こちらは最初の投稿です。編集または削除し、コンテンツ作成を始めてください。
    6 tahun yang lalu

Mading Online

Tribun Pekanbaru

Tampilkan postingan dengan label Band favorit benks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Band favorit benks. Tampilkan semua postingan

God Bless

Matahari baru saja kembali ke peraduannya. Lelaki perokok Sampoerna Mild menthol itu duduk santai di kursi berkain putih. Celana pendek dan kaos hitam membalut tubuhnya yang cengkar. Rambutnya klimis tipis. Kerut menghiasi wajahnya. Ia tak muda lagi, sudah 55 tahun. Sesekali ia meneguk kopi, lalu menghisap lagi rokoknya.

“Badan gue udeh mulai stabil. Emang kurus banget. Dulu badan gue bagus. Salah satu penyebabnya, ya… mikirin God Bless,” ujar Jockie Soerjoprajogo, lelaki itu.

Kini formasi God Bless sudah sedemikian berubah. Gonta-ganti personil menandai karir mereka. Keadaan ini dipicu oleh sejumlah determinan, antara lain beberapa personilnya sibuk bersolo karier dengan proyeknya masing-masing. Itulah yang membuat Jockie Soerjoprajogo prihatin. Ia adalah salah satu personil awal sejak God Bless berdiri, sekaligus inspiratornya. Di God Bless ia pemain keyboard. Selain dirinya, ada Ahmad Albar (vokalis), Donny Fatah (bas), Fuad Hassan (drum) dan Ludwig Lemans (gitar).

“Sayang tuh kelompok. Udeh tenar tapi orangnya susah diatur. Maunya jalan sendiri-sendiri. Nggak konsisten. Gue ampe capek mikirin bisa nostalgia lagi. Susah,” ujarnya lagi. “Sampe sekarang aja, album terakhirnya udeh nggak digarap lagi. Musik udeh jadi, tinggal masukin vokal aja, eh…malah vakum. Stress, kan?”

Album terakhir God Bless yang bertajuk Apa Kabar dirilis pada 1997. Sejak itu mereka praktis tak lagi mengeluarkan lagu. “Jadi kalau ada yang bilang God Bless mau bikin album baru lagi, omong kosong. Gue sih ketawa aja. Gile banget. Yang lama aja masih utang ama produser.”

Kini Jockie hanya bisa mengumpat. Berkeluh soal kondisi God Bless. Umpatan itu pula yang ditumpahkan kepada saya pertengahan Juni lalu, ketika saya temui di rumahnya di Bumi Serpong Damai (BSD) Tanggerang.

Ia tinggal di sebuah rumah yang cukup besar, sekira tipe 70. Kontras dengan luas keseluruhan, ruang tamu rumah Jockie kelihatan sempit. Banyak perabotan yang membuat ruangan berukuran sekira 4 x 8 meter ini kelihatan sesak. Televisi berukuran 21 inci terletak dekat bangku tamu. Terdengar suara gemericik air dari kolam taman dalam rumahnya.

Walaupun dia personil God Bless, tak ada foto atau lukisan yang terpanjang di dinding rumahnya. Ia juga tidak punya koleksi album foto maupun album lagu kelompok rock yang pernah kondang di negeri ini. “Gua nggak punya. Memang dari dulu gue nggak pernah simpan,” tuturnya.

Ia terdengar seperti mutung saat diajak bicara soal kelompok band yang sempat melambungkan namanya. “God Bless cuma menang sebagai kelompok rock legendaris. Hanya sekedar itu saja. Tapi kalau soal internal, nggak pernah beres-beres. Jadi, kalau habis bikin album terus vakum dan begitu seterusnya, bukan hal aneh.”

Ia kini sibuk bersolo karier membuat musik bersama Eros Jarot. Walaupun hari-hari banyak diluangkan waktu di rumah, ia tetap menulis lagu dan memainkan musiknya. God Bless, seakan diabaikan untuk waktu yang tak ada ujungnya.

*******************

Tahun 1973, Donny Fattah dan Fuad Hassan mendatangi rumah Jockie di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Dua orang ini mengajak untuk bergabung latihan band bersama di Cibogo, Puncak, Bogor, Jawa Barat.

“Kenapa harus di puncak,” tanya Jockie.

“Supaya kita bisa mudah konsolidasi latihan selama sebulan dan waktunya bisa diperpanjang sesuai kebutuhannya. Karena juga, ada anggotanya yang dari Belanda yang berdomisili di Indonesia,” jawab Donny.

Jockie setuju. Ia akhirnya berangkat ke puncak. Tiba di sana, ternyata benar, ada dua orang yang dikatakan berasal dari Belanda. Ahmad Albar yang kemudian dikenal bernama Iyek dan Ludwig Lemans. Sebelumnya, Jockie tidak mengenal dua orang yang disebutkan terakhir.

Iyek dilahirkan di Surabaya pada 16 Juli 1964. Di Belanda, ia belajar di sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zon. Di sana, ia berkenalan dengan Ludwig. Berdua pernah membentuk Clover Leaf. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum. Album ini masuk tangga lagu popular di sana. Alhasil, Clover mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.

Sebulan lamanya, mereka latihan tanpa ada nama grup musik. Nama grup yang sempat disematkan adalah Crazy Will.

Akhirnya, berlima punya agenda untuk turun gunung dan ingin segera memainkan musik di Jakarta. Pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973, konser kali pertama Taman Ismail Marzuki (TIM). Di situ, disematkan nama God Bless. Nama ini diambil dari kartu pos kiriman teman Iyek di Belanda saat latihan di puncak. Di surat itu, bagian bawahnya tertulis God Bless You (Tuhan Memberkatimu).

Konser di TIM membawakan lagu-lagu berasal dari grup band asing; Deep Purple, Grand Funk Railroad, ELP, King Ping Me, James Gang dan Genesis. Pentas itu mendapat sambutan penonton. Antusias. Walaupun belum rekaman dan hanya jago panggung, God Bless mulai dikenal pengemarnya sebagai band rock papan atas saat itu. Tak lama, Ludwig akhirnya kembali ke Belanda. Iyek tetap di Indonesia.

Setelah Ludwig pulang, posisi gitar digantikan Soman Lubis. Nahasnya, pada tahun 1974, Soman dan Fuad Hassan meninggal dunia. Tabrakan mobil di dekat Tugu Pancoran, Jakarta Selatan. Keadaan diperburuk lagi dengan pengunduran diri Jockie. Kepada saya Jockie mengakui, dirinya sosok anak muda yang nakal. “Gue dulu pemakai Narkoba...Bukan cuma itu saja, gue orang yang nggak bisa diam. Mau cari suasana untuk terus berekspresi. Nggak cuma di God Bless aja.”

Tak ada Jockie, God Bless hanya sesekali saja mentas. Personilnya tinggal Iyek dan Donny. Akhirnya, sejumlah musisi dilibatkan untuk konser panggung. Antara lain Deddy Stanzah, Rudi Gagola, Abadi Soesman, Dodo Zakaria, Oding, Debby, Keenan Nasution.

Semuanya tidak ada yang cocok bermain di God Bless. Abadi Soesman mengundurkan diri. Ia ingin bermain musik lagi di aliran Jazz. God Bless seakan hilang dari peredaran. Iyek dan Donny menemui Jockie untuk bergabung kembali di God Bless.

“Kalau saya masuk lagi, siapa yang mau main drum ama gitarnya,” tanya Jockie.

“Ada nggak yang kira-kira main sama kita,” tanya balik Iyek.

“Kalau di Jakarta, sulit. Kalau di Malang, mungkin ada.”

“Siapa ya? Iyek lagi bertanya.

“Cobalah nanti saya tanya dulu orangnya, mau nggak ke Jakarta,” kata Jockie Soerjoprajogo. Donny dan Iyek akhirnya memercayai Jockie mencari pemain baru God Bless.

Di Malang, Jawa Timur, Jockie tidak kesulitan untuk mencari pemain band. Di sana, ia banyak kenal kelompok musik, ada Jaguar, Bentoel dan lainnya. Ia dipertemukan dengan seorang lelaki bernama Ian Ling, lelaki keturunan Tionghoa yang dikenal dengan panggilan Ling sebagai gitaris di kelompok Bentoel. Ling setuju.

Jockie menanyakan ke Ian untuk pemain drum. “Teddy Sujaya aja, pemain drum gue,” saran Ian. Teddy pemain drum di kelompok Bentoel. Kelompok ini berada dalam perusahaan rokok Bentoel.

Kemudian bertiga berangkat ke Jakarta dan menginap di rumah Jockie. Esoknya, langsung dikenalkan ke Iyek dan Donny. Pada umumnya orang Tionghoa mengubah namanya jadi Indonesia. Situasi politik Orde Baru tidak berpihak kepada warga Tionghoa, ganti nama jadi cara untuk menaturalisasi identitas. Akhirnya Ling mengganti namanya menjadi Ian Antono.

“Gue nginapnya pindah-pindah. Kadang di rumah Jockie, di rumah Donny, sering juga di rumah Iyek. Pokoknya, nggak netap gitu,” ujar Ian.

Bergabungnya Ian dan Teddy, God Bless akhirnya mulai mengibarkan kembali benderanya. Formasinya; Achmad Albar, Ian Antono, Donny Fattah, Jockie Suryoprayogo dan Teddy Sujaya. Latihan dilakukan di rumah Jockie.

Tahun 1975, mereka mentas lagi di TIM, Jakarta. Konser ini, God Bless buat atraksi dan sebagai warna kreatifitas dari kelompok ini. Di sela lagu, tiba-tiba lampu dipadamkan. Gelap. Tak lama kemudian, satu lampu sorot mengarah ke peti mati di sudut panggung.

Peti terbuka. Kemudian keluar hantu berpakaian putih dengan ikat kepala, pocong. Sosok yang memerankan pocong adalah Jose Rizal Manua yang kini menjadi penyair. Semua penonton kaget. Sebagian kabur.

Konser ini juga yang membuat mereka tertawa. Ceritanya, esok harinya, harian Sinar Harapan memuat karikatur yang menggambarkan malaikat yang sedang berteriak dan mengajak malaikat lainnya untuk turun ke bumi. Akhirnya, malaikat berbondong datang ke TIM. “Ada God Bless mau bikin siraman rohani,” kenang Jockie.

Di karikatur itu, malaikatnya pada kabur. Dan ada tulisan, “Ini bukan siraman ronani, ini setan,” tiru Jockie. Tertawa.

****

God Bless mulai kondang. Pada 1975, almahum Sjoemandjaja, menawarkan mereka membuat lagu Indonesia. Tidak lagi menyanyikan lagu grup asing melulu. Sjoemandjaja memberikan beberapa lirik lagunya agar dijadikan musik untuk filmya. Liriknya berjudul Laela Majenun dan Si Doel Anak Betawi.

Lirik karya Sjoemandjaja digarap jadi musik. Kali pertama itulah God Bless membawakan lagu Indonesia. Dari situ, perusahaan rekaman kaset bernama Pramaqua –perusahaan gabungan Prambors dengan Aquarius- mendekati God Bless untuk masuk studio rekaman.

God Bless setuju. Mereka akhirnya meluncur ke studio rekaman Tri Angkasa yang terletak di Jalan Hang Tuah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dengan berdera PT. Pramaqua.

Album perdananya bertajuk Huma di Atas Bukit. Formasinya, Iyek, Ian, Donny, Teddy, dan Joeckie. Di tahun yang sama, God Bless mendapat kehormatan menjadi band pembuka ketika grup terkenal asal Inggris Deep Purple bertandang ke Jakarta.

Lima tahun kemudian, tahun 1980 barulah meluncurkan album keduanya bertajuk Cermin. Rekaman berlangsung di J.C Record. Jockie keluar dan digantikan oleh Abadi Soesman yang sudah bergabung sejak tahun 1979. Abadi ikut terlibat pembuatan album. Nasib album ini tak beruntung dari segi komersial di Indonesia. Gagal. Tetapi mendulang sukses di Malaysia dan Singapura.

Dua tahun kemudian, Abadi mengundurkan diri. God Bless seakan hilang dari peredaran. Semua personil sibuk bersolo karier. Donny Fatah berangkat ke Amerika Serikat sejak tahun 1981 dan kembali tahun 1984. Sekembalinya Donny, Iyek menyarankan God Bless berkumpul lagi.

Jockie diajak untuk bergabung kembali. Log Zhelebour turut membantu untuk mempertemukan dan mengaktifkan kembali God Bless. Program pertamanya adalah masuk ke studio rekaman untuk album barunya.

Tahun 1988, meluncurlah album ketiga bertajuk Semut Hitam. Rekaman dilakukan di studio Musica. Produsernya Log Zhelebour, ‘bankir’ yang membiayai seluruh rekaman God Bless sampai konser-konsernya. Album ini meledak di pasaran dengan penjualan 600 ribu kaset dan merupakan prestasi yang luar biasa untuk ukuran rock kawasan nasional bahkan ASEAN di masa itu.

Lagu semut hitam diciptakan oleh Donny. Kepada saya ia mengatakan, lagu ini spontan dibuatnya. Ia hanya ingin menyimbolkan bahwa semut adalah sosok binatang yang mempunyai jiwa tolerasi kepada sesamanya. “Binatang ini kelihatannya sederhana tapi punya toleransi yang tinggi. Begitu seharusnya manusia,” ujarnya.

Lirik Semut Hitam;

semut-semut hitam yang berjalan

melintasi segala rintangan

satu semboyan di dalam tujuan

cari makan lalu pulang

yok .. ikut langkah yang terdepan

yok .. ikut ke kiri ke kanan

semut-semut seirama

semut-semut yang senada

nanyikan hymne bersama

makan ! makan ! makan !

Setahun kemudian di penghujung tahun 1989, Log kembali menawarkan membuat album baru. God Bless sepakat mengatur jadwal latihan. Ironisnya, Ian Antono keluar saat God Bless akan rekaman album keempatnya.

Ceritanya, semua personil sedang mempersiapkan album Raksasa di studio rekaman MMM studio di Jalan Juanda, Jakarta Pusat. Selama tiga hari, setting alat musik dan rekaman sedang dipersiapkan. Di hari keempat saat akan mulai rekaman, tiba-tiba ada sepucuk surat dari Ian Antono. Isi surat itu; “Terpaksa dengan berat hati, saya mengundurkan diri dari God Bless.”

“Gue mundur nggak serta merta mundur gitu aja. Sebenarnya udeh lama gue ungkapin masalahnya,” ujar Ian kepada saya.

“Kenapa?” tanya saya.

“Ya...gue mau mau main solo aja. Kalau nggak salah, sibuk di album Mata Dewa bersama Iwan Fals sama orbitin penyanyi Nicky Astria.”

Saat pengunduran diri Ian, semua personil God Bless kaget. Bingung dengan surat dadakan itu. Iyek kemudian menanyakan ke Jockie, “Gimana nih?”

“Sekarang harus dipastiin dulu, soal Ian gimana nih. Kalau nggak ada penyelesaian, kita tetap terusin aja,” jawabnya.

“Kalau kita mau terusin, siapa yang main gitar,” kata Iyek.

“Kita cari aja dulu pemain addition. Pokoknya kita harus jalan dulu buat rekaman,” kata Jockie.

Jockie sempat mengusulkan temannya asal Filipina bernama Robin yang bermain gitar di grup Progresif. Semua setuju. Namun tiba-tiba Log memanggil semua personil God Bless tanpa Robin.

“Nih repot juga kalau Robin dilibatkan God Bless,” ujar Log.

Log khawatir masuknya robin akan bermasalah proses hukumnya dengan pihak imigrasi. Karena, Robin datang ke Indonesia dengan visa kunjungan, bukan visa kerja. Dengan terpaksa, Robin akhirnya dibatalkan bergabung. Jockie diminta lagi untuk mencari penggantinya.

“Bukan saya yang putuskan tentang Robin . Tapi God Bless, saya cuma ngasih saran terbaik saja,” ujar Log kepada saya.

Dalam pertemuan itu, Jockie mengusulkan pemain gitar bernama Eet Syahranie. Saat itu, Eet sudah bergabung dengan Faridz RM dalam grup WOW. Di GIN Studio, Jockie menemui Eet untuk diajak bergabung. Ketika disebutkan nama God Bless, Eet kaget. Ia langsung menerima ajakan itu. Rekaman album Raksasa sukses sebagai album keempat.

****

God Bless mulai menyambangi berbagai kota di Indonesia seiring keberhasilan album Semut Hitam dan Raksasa. Konser yang digelar secara spektakuler meraih sukses besar. Sayangnya, Log sebagai produser langsung menghentikan konser di sisa beberapa kota lagi.

Kepada saya Log mengatakan, penghentian konser karena personil God Bless tiba-tiba punya kesibukan masing-masing. Ia kecewa. Karena di tengah jalan, justru membuat kelompok. Ian Antono, Iyek, dan Donny Fatah membentuk GONG 2000 dan Jockie Soerjoprajogo sibuk dengan KANTATA TAKWA dan SWAMI.

“Itulah God Bless, cuma sekedar kelompok lihat tampang ke pengemarnya saja Kalau ada yang lebih baik, mereka seenaknya saja mengabaikan God Bless. Seenaknya saja, mengacak-acak jadwal konser,” ujar Log.

“Karena tidak konsisten itu, saya akhirnya putuskan, lebih baik dihentikan saja konsernya.”

Pembentukan Gong 2000, kata Iyek, tidak ada hubungannya dengan God Bless. “Kita mendukung Ian untuk membentuk Gong 2000. Apalagi cuma sampai tahun 2000 saja. God Bless jalan dan Gong 2000 tetap jalan.” Personilnya, Ian, Iyek dan Donny, dan melibatkan Abadi Soesman serta Yaya Moekti.

Saat itu, Ian tidak bergabung dengan God Bless. Gong 2000 dikerjakan karena kerja samanya dengan perusahaan rokok, Djarum. “Makanya, namanya Gong 2000. Perjanjiannya memang sampai tahun 2000 saja,” kata Ian. Kelompok ini dibubarkan oleh Ian Antono di penghujung tahun 2000.

Di sela tahun itu, God Bless tak terdengar kabar. Semua personilnya kembali sibuk masing-masing. Tahun 1997, Iyek berupaya mempertemukan kembali personil God Bless dan membicarakan rekaman lagi. Di pertemuan itu, tanpa kehadiran Ian Antono. Iyek menyarankan agar Ian Antono kembali diajak bergabung.

Jockie setuju dengan rekaman tapi bingung dengan saran Iyek tentang Ian Antono untuk diajak bergabung. “Loh…jadi bagaimana dengan Eet, apa kita harus pakai dua gitaris,” tanya Jockie.

“Ya..nggak apa-apa. Kita pakai dua gitar aja,” ujar Iyek.

Jockie sempat menentang rencana dua gitar. Dalam pertemuan itu, Eet langsung mengatakan, “Nggak apa-apa mas, tidak masalah dua gitar. Nanti biar mas Ian yang di depan, saya bantu di belakang saja,” ujar Eet.

Akhirnya, semua personil bertemu di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Dalam pertemuan itu, God Bless meminta Log Zhelebour untuk kontrak dua album sekaligus. Log Setuju. Di sana, mereka melangsungkan latihan selama dua bulan. Dan akhirnya turun gunung lagi. Hasilnya, hadir album Apa Kabar. Duo gitaris menjadi andalannya, Eet dan Ian.

Formasinya, Iyek, Donny, Jockie, Eet Syahranie, Teddy, dan Ian. Di album ini, mereka akan kembali menyapa pengemarnya dalam tur ke lima kota. Nahas, rencana tur keliling Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, harus kandas lantaran di tahun 1998, Indonesia terkena krisis moneter dan banyak terjadi huru - hara.

Waktu itu, nilai mata uang Indonesia atas dollar Amerika tiba-tiba melonjak dahsyat. Dari angka Rp2500 terus merambat hingga mencapai Rp12 ribu. Semua harga kebutuhan pokok ikut naik. Aksi unjuk rasa menentang pemerintah Soeharto dengan antek orde barunya, berlangsung di seluruh negeri. Soeharto akhirnya mundur dari kekuasaannya, 11 Mei 1998.

Lagi-lagi, vakum. Tahun 1999, Log akhirnya menemui Jockie agar God Bless menyelesaikan album kedua yang pernah disepakati di Puncak. Jockie setuju. Ia akhirnya menemui pesonilnya secara personal. Ia mendatangi Ian Antono, Iyek, Donny Fattah, dan Teddy. Semuanya sepakat untuk kembali rekaman.

Hanya Eet yang menolaknya. Ia ingin konsentrasi memperkuat grup musik, EDANE yang sudah dibentuk sejak tahun 1992. Grup ini sudah meliris album perdananya berjudul, The Beast. Mundurnya Eet, formasi God Bless kembali ke awal lagi. Akhirnya, tempat latihan yang disepakati di studio milik Jockie.

Kesepakatan untuk rekaman lagi setelah album Apa Kabar, kandas di tengah jalan. Iyek secara tiba-tiba tidak datang. Padahal, rekaman untuk musik sudah selesai. Tinggal isi vokal Iyek saja.

“Jock, mendingan elu panggil deh si Iyek dan kita rapat. Kita tuntasin aja masalah ini gimana maunya?” saran Ian.

“Kenapa bukan elu aja yang ngomong,” tanya balik Jockie kepada Ian.

“Gue udeh nggak bisa ngomong. Gue udeh nggak sanggup,” jawab Ian.

Akhirnya, Jockie setuju memanggil Iyek. God Bless rapat. Hasilnya, tidak ada kesepakatan. Log akhirnya turun tangan agar masalah bisa segera diselesaikan. Namun, Jockie sudah menyatakan mengundurkan diri. “Saya sudah tidak sanggup,” ujar Jockie.

“Kita stop album itu, karena tipe lirik dan arasemen musiknya tidak lagi punya warna untuk God Bless. Tidak ada persoalan pribadi. Hanya itu saja masalahnya,” papar Donny Fatah.

“Yang kita inginkan, album itu dirombak. Tapi hasilnya, nggak ada kesepakatan. Ya...akhirnya tidak dilanjutin,” ujar Donny lagi.

Iyek juga menyatakan sama. Kepada saya ia mengatakan, persoalan yang terjadi saat itu adalah, arasemen musik seenaknya saja diubah oleh Joeckie. Bayangkan saja, kata Iyek, saat latihan sudah siap, tiba-tiba besoknya arasemen sudah diubah. “Joecky seenaknya mengubah arasemen ciptaan Ian atau ciptaan personil lain. Kalau ciptaan Joeky yang di ubah, kita tidak permasalahkan,” ujar Iyek.

Log akhirnya tidak berbuat apa-apa. Padahal, ia sudah membayar kontrak untuk semua personil God Bless. Dari sepuluh lagu, baru lima lagu yang selesai. Masternya ada di perusahaan miliknya berbendera Logiss Record. “Mungkin ada perselisahan paham saja antar personil. Dalam kontraknya, Eet juga sudah masuk. Ia sudah mengambil uang muka,”

“Silahkan saja kalau God Bless pengen bikin album di tempat lain. Tapi, kembaliin dulu dong duit yang sudah dibayar,” ujar Log.

“Saya sudah cukup pengertian dengan God Bless. Tapi, mereka saja yang mau seenaknya. Saya tunggu saja, kapan mereka tuntaskan tanggung jawabnya.”

Donny membatah pembayaran itu. Begitupun Iyek dan Ian. Kata Donny, kontrak dengan Log memang hanya sebatas album Apa Kabar. “Jadi, otomotis, kontrak sudah tidak berlaku lagi. Walaupun album tertunda itu akhirnya berhenti di tengah jalan,” ujar Donny.

Di era tahun 2000-an, God Bless kembali memperlihatkan eksistensinya sebagai grup rock. Tak ayal, tanpa meliris album baru lagi mereka tetap tampil. Sayangnya, era kejayaan baru pascareuni itu tak berlangsung lama. Jockie dan Teddy mundur.

Nasibnya God Bless ditangan sisa personilnya, Iyek, Donny dan Ian. Kemudian Abadi Soesman, Iwang dan Inang dirangkulnya. Tapi tak lama. Kedua nama terakhir, mengundurkan diri. Kemudian diganti Yaya Moektio.

Dari berdirinya tahun 1972 hingga kini, cuma punya lima album. Yaitu; God Bless (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1988), Raksasa (1989), dan Apa Khabar (1997), dan sebuah album yang diaransemen ulang, The Story of God Bless (1990).

God bless termasuk band yang memelopori banyak warna di musik Rock Indonesia. Itu diiyakan Log Zhelebour. Sayangnya, kata dia, personilnya egoistis semua. Untuk membentuk kelompok band yang solid, memang agak kacau. Dirinya sudah lelah. “Istilah orang itu, sudah patah semangat. Sudah keburu tua. Waktunya ke buang sia-sia. Hanya untuk rapat, ngobrol tapi tidak bekerja,” ujarnya.

“Kalau dibandingkan dengan band lain, jauh. Band lain produktif dan taat dengan manajemen. Mereka jalankan dengan senang hati dan sebagai karier profesinya. God Bless banyak buang waktu dan tidak cocok dengan hasilnya.”

Iyek mengatakan, “God Bless tidak punya manajemen. Log hanya sebagai produser. Pikirannya bisnis. Tidak bisa disamakan dengan yang lain. God Bless adalah God Bless.”

“God Bless hanya dijadikan tonggak sejarah musik rock. Mereka hanya mencari populeritas. Setelah sukses, akhirnya mereka mencari kerja sampingan. Karena, masing-masing punya kelompok sendiri-sendiri,” Kata Log.

“Ada rencana album tertunda ini dibuat kembali?” tanya saya kepada Log.

Log mengatakan, semuanya diserahkan kepada God Bless. Ia hanya meminta kesadaran mereka saja. Mau diberesin atau tidak, kata Log, kesadaran mereka sendiri. “Mereka udeh tua dan tidak bisa dipaksa,. Yang penting kewajiban soal dana sudah saya bereskan. Dan kebutuhan mereka sudah dibayar. Kalau mereka tidak menuntaskan, saya tidak memaksa.”

Soal album itu, Iyek kepada saya mengatakan, album tertunda itu tidak akan pernah dilanjutkan. God Bless, kata dia, akan membuat lirik album yang baru lagi. “Musiknya sudah berubah. Ciri khas God Bless pada album tertunda itu, sudah tidak menarik lagi. Dan kita sepakat, album tertunda itu tidak usah dilanjutkan lagi.”

Vakum dan tak ada album, terus melanda grup rock ini. Pada Juli 2002, Albar menyatakan God Bless bangkit lagi dengan formasi baru melibatkan Gilang Ramadhan dan Abadi Soesman. Iyek mengajak tiga punggawanya, Ian Antono dan Donny Fattah untuk membangkitkan nama besar God Bless. Hingga kini, album belum ada dan hanya tetap jago panggung lagi.

*****
Siang hari sepekan lalu, hujan deras membasahi kawasan Cibubur, Depok, Jawa Barat. Salah satu rumah di perumahan Cibubur Indah Vila terlihat sepi. Di situ Ian Antono tinggal dengan keluarganya. Donny Fatah keluar menemui saya dan menyapanya.

“Silahkan masuk. Ini hari pertama pertemuan God Bless yang sudah delapan bulan tidak bertemu lagi,” ujarnya. Tersenyum.

Di ruangan tengah, sudah ada Abadi Soesman dan Yaya Moektio. Wajah Donny sudah tidak sangar seperti dulu. Donny muda, dulunya berambut gondrong. Kini, potongan rambutnya pendek. Abadi Soesman, raut wajahnya sudah tua. Rambutnya sudah memutih. Yaya relatif yang paling muda. Rambutnya masih gondrong.

“Kita ini lagi reunian. Sekalian mau latihan buat mentas di PRJ tanggal 5 Juli,” ujar Donny kepada saya. PRJ singkatan dari Pekan Raya Jakarta di Kemayoran. Perhelatan tahunan memeringati ulang tahun Kota Jakarta.

“Udeh berapa lama nih, kita nggak ketemuan?” tanya Yaya.

“Udeh delapan bulan. Terakhir kita ketemuan abis konser di Kediri. Kalo nggak salah bulan Oktober 2006,” kata Donny.

Tak lama kemudian, Ian Antono datang usai mengatur studio musiknya. Wajahnya juga tidak sangar. Rambutnya masih panjang dan sudah beruban. Ia hanya mengenakan celana pendek sedengkul kaki dan kaos oblong putih.

“Iyek datang nggak ya,” tanya Donny kepada Ian.

“Mana gue tahu.”

“Mudah-mudahan datang. Mungkin terlambat,” ujar Ibu Titi, Istri Ian Antono.

“Ya udeh, kita latihan aja. Tuh semua alat udeh siap semua,” kata Ian.

Berempat masuk ke studio yang berada di belakang. Ruangan itu, hanya diterangi enam lampu pijar. Luasnya sekira 4 x 4 meter. Semua alat musik sudah lengkap. Donny duduk di bangku tinggi memainkan bas. Ian posisi berdiri memainkan gitar. Abadi berdiri memainkan Keyboard. Dan Yaya menabuh drum.

Pada latihan itu, Iyek belum datang. Hanya musik yang terdengar keras. Di latihan ini, sering salah. “Maklum, udeh lama nggak main lagu God Bless,” ujar Donny. Ian, Abadi, dan Yaya hanya tersenyum saja. Yang paling banyak lupa menabuh drum adalah Yaya. Yang lainnya, hanya sesekali saja.

Pukul 16.45 WIB, Iyek baru datang dari perjanjian pertemuan pukul 13.00 WIB. Iyek membawa buku. Ia langsung memegang microphone yang terbungkus busa berwarna pink. Rambutnya tidak kribo seperti dulu. Raut wajahnya tetap mudah dikenali. Ian menggeser posisi gitarnya di antara Abadi dan Iyek.

Iyek langsung menyanyikan beberapa lagu sambil memegangi buku yang isinya catatan lirik God Bless. Urat lehernya mudah dilihat ketika Iyek menyanyikan lagu.

God Bless, memang tidak lepas dari sosok Iyek. Dunia seni, bukan hal yang aneh baginya. Selain musik, seni peran pun pernah dijabaninya.

Ia pernah menjadi peran utama dalam film berjudul Jenderal Kancil di usia 12 tahun. Dalam Festival Film Singapura, film ini mendapatkan penghargaan film anak-anak terbaik. Usai mendulang sukses di film, Iyek akhirnya menapaki kembali dunia musik. Ia membentuk band bernama Bintang Remaja.

Di festival band bocah yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta, bandnya menjadi juara pertama. Sayangnya, hanya bertahan dua tahun. Bubar. Lalu bersama Titi Qadarsih, membentuk Kuarta Nada. Bubar lagi.

Tahun 1965, selepas SMA, Iyek terbang ke Belanda. Ia melanjutkan sekolah musik jurusan gitar klasik di Bergen OP Zoon. Di sana membentuk The Big Five sebagai kegiatan luar sekolah. Grup ini sering main di pub dan sesekali mengikuti festival. Iyek pernah terpilih sebagai vokalis terbaik. Usai itu, lagi-lagi bubar.

Bersama dengan Ludwig Lemans, Iyek membentuk Clover Leaf. Era grup ini, dari jago panggung akhirnya ke rekaman. Tujuh album dan satu piringan hitam dihasilkan. Beberapa lagu diantaranya; Veronica, North Sea, dan Hilversum, masuk tangga lagu popular di Belanda. Alhasil, grup ini sering mengadakan tur ke Jerman, Belgia, dan Luxemburg.

Tahun 1972, Iyek kembali ke Jakarta membawa Ludwig Lemans. Masa itulah, ia mengamati musik Indonesia. Setiap malam, ia mengunjungi club malam sambil mengamati musik ala anak-anak Jakarta. Akhirnya mencari musisi untuk bergabung. Orang yang kali pertama direkrutnya adalah Fuad Hassan, adik iparnya.

Di sela God Bless vakum, ia membuat album solo berjudul Dunia Huru-Hara yang dikerjakan barengan dengan Areng Widodo sebagai pencipta lagunya. Ia juga bikin album Dua Kribo bersama Ucok Harahap. Selain di musik, ia sibuk mengisi membintangi film Si Doel Anak Modern, Pacar Seorang Perjaka, Laila Majenun, dan Duo Kribo.

Di tahun 1997 bersama adik tirinya, Camelia Malik, Indra Lesmana, Budjana dan Jalu, membentuk Trakebah. Sebuah grup yang niatnya ingin menggabungkan musik dangdut dengan rock dan jazz. Grup ini pernah tampil dalam Jak Jazz 1997.

Walaupun sudah ada God Bless, bersama dengan Ian Antono, menggarap album Syair Kehidupan. Ian dalam album ini dibantu oleh pencipta lagu andal seperti Areng Widodo, Tommie Marie, dan Abadi Soesman.

“Kalau personil bersolo karier, karena God Bless sedang vakum,” ujar Iyek.

“Semuanya sampai sekarang sibuk masing-masing. Kalau pas ada pementasan, baru kita kumpul,” kata Donny.

Selain God Bless, Donny sibuk dengan grup barunya, Don’z Gank. Personilnya terdiri dari mantan band rock yang seangkatan dengannya. Baruna (Vokalis) mantan personil Elpamas, Yaya Moektio (drum), Mando (keyboard) mantan personil Grass Rock, dan Mauly dan Pray (gitaris) mantan Legend Bee dan Gank Pengangsaan.

“Tapi, udeh nggak lagi. Gue sekarang banyak di rumah aja. Palingan kalau diajak main,” ujarnya.

Teddy Sujaya, kini sibuk dengan musik-musik rohaninya. Komunikasi terakhir dengan Donny empat bulan lalu. Kata Teddy kepada Donny, ia sudah tidak lagi main musik untuk band. “Itu sudah menjadi pilihannya sendiri.”

“Yang gue tahu sebulan lalu, Teddy sibuk jadi guru private drum. Ini selain sibuk di musik rohani,” tambah Iyek.

Iyek sendiri, kini lebih banyak di rumahnya di kawasan puncak. “Gue sekarang, lagi renovasi villa.”

Sedangkan Ian Antono, kini sibuk pulang pergi Jakarta-Surabaya. Di sana, ia sedang membantu menggarap grup band asal Surabaya, Jawa Timur bernama Trans Band. “Gue jadi Music Director-nya. Mereka band baru, jadi harus dibimbing sepenuhnya.”

“Rencana ke depannya gimana nih,” tanya Yaya.

“Abis dari main di PRJ, kita main di Bali bulan Agustus. Kan ada Soundrenaline Bali 2007,” jawab Donny.

“Kita upayakan bikin album tahun 2008. Kan bertepatan dengan 35 tahun God Bless,” timpal Iyek.

“Sip...sip,” ujar Yaya sambil memandang Abadi yang cuma tersenyum.

“Selesaikan album tertunda yang sekarang masternya ada di Logis Record?” tanya saya kepada Iyek.

“Ya..nggak lah. Kita bikin album dengan musik dan lagu yang baru lagi. Kita coba kerja sama dengan produser lain. Tapi tidak menutup-kemungkinan, kita akan berdialog dengan Log Zhelebour untuk kerja sama lagi.”

“Kenapa Teddy dan Jockie tidak diundang ke pertemuan reuni ini?”

“Ya..memang nggak dipake main lagi ama God Bless. Kalau Teddy, memang memilih di jalur sendiri sebagai musik rohani.”

****

Di ruang tamu, lima personilnya berkumpul sambil mendengarkan album lama God Bless. Foto personil lama didirikan di bawah televisi. Wajah menyeramkan yang terlihat. Pose sangar Joecky, Ian, Iyek, Donny, dan Teddy yang dipotret tahun 1975.

Mata Iyek dan Donny seringkali memandangi foto diri sendiri. “Nih..waktu gila-gilanya. Masih senang teler,” ujar Donny tertawa. Semuanya tertawa. “Ampe sekarang nggak mabok lagi?” timpal tanya Yaya.

“Sekarang udeh tua. Malu ama anak,” ujar Donny, semua tertawa lagi.

“Joeckie kurusan kembali kayak foto itu. Gue terakhir ketemu waktu Chrisye meninggal. Rambutnya pendek,” kenang Iyek sambil memandang foto Joeckie.

Matahari surup di ufuk barat. Adzan Isya berkumandang dari mesjid yang tak jauh dari rumah Ian. Donny Fatah dan Yaya pamitan lebih dulu. Dua orang ini diantar keluar oleh tuan rumahnya, Ian Antono dan Istrinya. Pertemuan usai album Apa Kabar sambil menanti cemas ‘Sampai Jumpa’.
sumber : http://roesman.blogspot.com/2007/07/apa-kabar-god-bless.html

Slank

merilis album baru. Tapi peluncuran album ke-12 ini beda dengan yang lain. Kali ini grup musik beraliran rock asal Gang Potlot itu melepas album sambil naik Vespa keliling Ibu Kota untuk kemudian berlabuh di Museum Gajah, Jakarta Pusat. Album tersebut bertitel Road to Peace.

Album berisi lagu yang direkam saat grup ini konser live di berbagai daerah. Kaka, pentolan grup ini mengatakan, album baru Slank masih berbicara soal perdamaian. Dan sebagai lambang perdamaian, personel Slank, Kaka, Ridho, Ivan, Abdee, dan Bimbim, melepas puluhan burung merpati. "Jangan lagi ada peperangan. Hidup perdamaian. Piss," teriak mereka berbarengan.

Gaung perdamaian pun disuarakan ratusan warga Jakarta. Semalam, mereka memperingati Hari Antikekerasan dengan menggotong tema Malam Sejuta Cahaya. Koordinator Malam Sejuta Cahaya,

Shahnaz Haque mengatakan, gerakan juga dimaksudkan untuk mempertahankan dan mengembangkan semangat persaudaraan. Menurut dia, peringatan Hari Antikekerasan sebenarnya jatuh pada 12 Mei. Namun karena alasan teknis, acara baru dilaksanakan kemarin malam. (sct/erl)


Peterpan

Hampir bisa di pastikan kalo sejarah berdirinya peterpan sudah banyak yang tahu apalagi buat sahabat peterpan yg sudah ngikutin jejak perjuangan peterpan dari pertama. Apa sih yang belum di bahas tentang peterpan?. Berapa banyak tabloid, koran, internet, majalah, station tv dan radio yg sudah mengulas habis "history" band dari Bandung ini. Untuk melengkapi website ini kita tulis lagi bio nya peterpan yg dimulai dengan nyeritain kegiatan mereka saat ini yg lagi sibuk dengan persiapan launching album OST Alexandria, pembuatan clip single pertama album ini, dan jadwal promo yg super padat.

"Melihat kebelakang itu perlu supaya kita tidak lupa akan arti sebuah perjuangan yg bisa membuat kita mengevaluasi diri setiap saat dan menjadi yg lebih baik dari yg sebelumnya" itu kata Andika, waktu gue temuin di sela-sela pembuatan video clip "Tak Bisakah" di daerah Fatahilah Jakarta.

This time of the year

Panas dan lembabnya udara Jakarta, gak bisa menyetop peterpan dan crew untuk shooting video clip untuk single mereka yang terbaru yang di ambil dari album OST Alexandria. Shooting yang di lakukan di dalam gedung tua di daerah Fatahilah Jakarta itu berlangsung dari pagi sampai malam. Malam sebelumnya, peterpan di anugrahi MTV Indonesia untuk kategory "Best Selling Album" untuk album Bintang Di Surga, yg terjual lebih dari 2,7 juta copy. Acara MTV Indonesia Music Award yang berlangsung di JCC itu berlangsung sampai larut malam, tapi peterpan teteup semangat shooting video clip pada pagi harinya. Sebelum penghargaan dari MTV ini, beberapa minggu sebelumnya peterpan mendapatkan penghargaan dari SCTV karena terpilih sebagai "Band Terbaik" pilihan pemirsa SCTV.

Rencananya setelah shooting single pertama, peterpan langsung balik ke Bandung dan mempersiapkan diri untuk peluncuran album OST Alexandria yang akan di lakukan pada hari minggu, tgl 18 September jam 23 malam. Launching album yg di beri tittle "menunggu pagi " itu akan di siarkan langsung oleh 6 station tv di Indonesia.

A few months ago

Setelah merampungkan perjalanan tour, konser dan acara2 show super padat yang menguras fikiran dan tenaga sepanjang tahun 2004 dan 2005 ini, bulan Jun dan July yg sedianya menjadi bulan break bagi peterpan masih teteup di isi dengan pencarian materi album untuk album soundtrack yg mesti di rakam pada bulan yg sama, dan dirilis awal September. Bersamaan dengan pindahnya base camp peterpan dari Tubagus ke Jl. Lombok, maka hari-hari mereka di isi dengan merapikan Base Camp dan jadilah BC yg masih "under construction" di jadikan tempat kumpul untuk "brain storming" pembuatan album soundtrack film "Alexandria", yg lagi di garap pembuatannya oleh RexCinema. Konsep lagu yg di tawarkan oleh Ariel, Dika, Loek, Indra, Uki dan Reza dalam album ini masih menawarkan musik khas peterpan, yaitu alternative modern pop rock.

Moga-moga album soundtrack ini bisa ngobatin kerinduan para sahabat yg gak sabar untuk nikmatin hasil karya peterpan yg baru. Setelah ini, project album ketiga peterpan sudah menunggu untuk tahun depan!!

Di bulan July Agustus peterpan juga sibuk perform di beberapa kota, salah satunya untuk Soundrenaline di Cimahi, Surabaya dan Bali. Pada bulan yang sama juga mereka mengadakan kunjungan pertama mereka ke Jepang . Mereka perform di Nagoya untuk acara amal yg di tujukan untuk membantu musibah Tsunami di Aceh dan Nias.

Once upon the time, back then the story started here...

Not in the neverland tapi di Bandung, di kota yg memiliki potensi musisi paling creative di dalam negri inilah, Andhika, Ariel, Uki, Reza, Loekman dan Indra yg menamakan diri mereka peterpan memulai perjalanan kisah mereka. Dari album kompilasi "Kisah 2002 malam" garapan Kang Noey (yg basis Java Jive itu lho) dan di produksi Musica studio, kisah kesuksesan peterpan di mulai. Tapi sebelum itu, jauh sebelumnya di tahun 1997, ada perjuangan yg berliku untuk akhirnya mendapat moment yg happy ending. Andika (keyboard) yg punya jiwa bermusik dan ambisi yg besar, membentuk band Topi di tahun 1997, saat itu dia mengajak Uki (guitar) yg adik kelas Andika di SMU 2 Bandung. Uki lalu mengajak teman SMP nya, Ariel untuk bergabung dan memegang posisi vocalist. Andika juga mengajak teman mainnya Abel untuk memegang posisi basis dan Ari untuk posisi Drum. Dengan formasi inilah mereka mulai latihan bareng dan manggung kecil-kecilan, musik yg di mainkan beraliran Brits alternative. Sang drummer, Ari mengundurkan diri dan formasi band Topi pun undur satu persatu yg menandakan band ini akhirnya bubar tanpa sebab yg pasti.

Pada tahun 2000, Andika mengumpulkan lagi teman ngeband nya yg lulusan band Topi itu. Kali ini posisi drummer di pegang Reza, anak kuliahan dari Palu yg jago main drum. Untuk memberi warna musik yg lebih dewasa dan lebih kaya melody, bergabunglah Loekman, teman main kakanya Indra, yg akhirnya jadi lead guitar. Dengan posisi 6 personil inilah akhirnya mereka merasa puas. Setelah mendapatkan formasi tentu sekarang harus cari nama yg sesuai, yg bisa merepresentasikan musik mereka. Maka di ambilah nama peterpan yg dari pernjelasan Dika "dulunya dari peter band, peter artinya pemimpi yg pengin terbang", peterpan yg tokoh kartun anak2 menurut Dika telah mengalahkan karakter lainnya seperti Micky Mouse, Spiderman, X-men dll dalam pemilihan nama band dari Bandung ini (untung namanya bkan X-men he..he..). Setelah di rembukan, peter band menjadi peterpan, mereka harap dengan nama tokoh kecil anak2 itu lah mimpi bermusik mereka bisa di bawa terbang dan di terima di seluruh negri ini. September tanggal 1 adalah terbentuknya peterpan secara resmi.

Perjalanan peterpan di mulai tahun 2001 dengan merambah dari caf ke caf di Bandung, harapan mereka saat itu sangat realistic dan simple, menjadi home band di caf ternama di Bandung. Mereka main di caf OHara dan Sapu Lidi dan bawain lagu-lagu top 40, alternative rock seperti Nirvana, Pearl Jam, Cold play, U2, Creed dll. Di caf sapu lidi lah potensi mereka terlihat oleh Kang Noey yg memang sedang mencari band pengisi album kompilasi. Mereka mengirimkan 3 lagu demo, sahabat, mimpi yg sempurna dan taman langit. Lagu mimpi yg sempurnalah yg terpilih untuk di masukan ke album kompilasi Kisah 2002 Malam. Hasil dari penjualan album ini tidak mengecewakan, dan tak di sangka justru lagu mimpi yg sempurnalah yg jadi jagoan album ini dan mendongkrak penjualan sampai di atas 150,000 kopi. Penjualan yg bagus untuk sebuah album kompilasi. Otomatis mimpi yg sempurna merambah tangga radio2 dan dinyanyikan oleh banyak orang dan menjadi lagu wajib pengamen jalanan!!.

Dari sinilah pihak Musica tidak melewatkan potensi bermusik yg ada di ke 6 anak muda Bandung ini. Musica mempercepat pengajuan kontrak untuk debut album peterpan. Dan pada bulan Juni 2003 album debut Taman Langit di luncurkan. Back ground setiap personil juga aliran dan selera bermusik mereka yang berbedalah yang membuat album Taman Langit ini memiliki lagu-lagu yg bervariasi, baik dari segi materi lagu dan soundnya. Kekuatan vocal Ariel dan "simplicity" yang unik dari lirik2 peterpan di sebut oleh penggemar musik mereka sebagai benang merah yg tidak bisa di hapus dari musik peterpan. Sentuhan-sentuhan individu dari personil seperti Andika di Keyboard, Loekman di guitar 1, Uki di guitar 2, Indra di bass dan Reza di drum, juga sangat mempengaruhi terbentuknya warna musik peterpan di album pertama ini.

Walau jadwal masih padat selama tahun 2003-04, dan klimaks nya pada tgl 18 July 2004, peterpan melakukan aksi gila dengan mengadakan konser di 6 kota dalam waktu 24 jam!!! Konser yg diberi judul konser breaking Record itu menembus rekor MURI, manggung dari kota ke kota di dua pulau dalam waktu 24 jam. Konser di mulai hari minggu tgl 18 july di medan sumut, lalu di teruskan di Padang, Pekan baru Riau, Lampung, Semarang dan berakhir di Surabaya. Dan tidak menanti lebih lama lagi, yaitu pada bulan Agustus, album ke 2 peterpan Bintang di Surga dirilis. Dalam waktu yg sangat singkat, 2 minggu Bintang di surga telah terjual 350,000 kopi. Dari sinilah dari band yang biasa-biasa saja di kenal, peterpan tak di sangka menjadi " a phenomenon band" di Indonesia, mengikuti senior mereka dalam mencetak penjualan album yang tinggi.

Di album ke dua ini banyak kemajuan cara bermusik mereka. Dan kemajuannya bisa di rasakan di setiap lagu. Karakter vocal Ariel mulai mendapatkan jati dirinya, permainan guitar loekman dan Uki juga mulai melengkapi satu sama lain. Reza semakin berani memberi warna dan arah di setiap lagu. Andika makin creative dan jeli mengembangkan aransement di setiap track. Permainan bas Indra makin terasa groovenya.

Semenjak peluncurannya sampai sekarang, album ini sudah terjual lebih dari 2,7 juta kopi. Angka yg fantastis ditengah lesunya penjualan album band2 dan musisi lain di Indonesia. Angka penjualan album yg tinggi juga di ikuti permintaaan show dan jadwal tour yg padat. Band yang sudah mengantongi beberapa penghargaan diantaranya 3 SCTV Awards, satu di tahun 2004 dan 2 di tahun 2005. Mereka juga menerima satu MTV Asia Awards sebagai favorite artist Indonesia pada tanggal 9 Mei 2005 di Bangkok. Disamping itu, dari konser-konser peterpan yang di gelar di beberapa daerah dan events-events kemanusiaan, mereka telah mendapatkan ulasan-ulasan dari berbagai media masa di Indonesia dan negara tetangga.Mereka juga tlah berganding dengan Crisye untuk album Senyawa Chrisye.

Pada tahun berikutnya Indra & Andika telah di pecat oleh manajer mereka.Mereka sendiri tidak menyangka bahawa mereka di pecat dalam karier yang di anggap sebagai titik peluh mereka sendiri.Namun begitu Ariel,Uki,Loekman & Reza telah membuktikan bahawa mereka masih teguh dalam band ini.Pada tahun 2006 mereka telah menghasilkan video clip yang pertama dalam album yang ketiga mereka iaitu "Menghapus Jejakmu" yang mendapat sambutan yang menggalakkan.Dari sini mereka bermula sehingga mendapat lagu yang seterusnya seperti Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi & lain-lain lagi.Dan lahirlah album yang ketiga mereka iaitu "Hari Yang Cerah..." Mereka memuat lagu ini sebanyak 10 lagu yang di cipta sendiri oleh Ariel.


2008...Adalah tahun berakhirnya karya peterpan dalam industri musik indonesia dan didalam proses pertukaran nama...Peterpan telah menghasilkan Album the best of seterusnya album terakhir bagi group ini sebelum ditukarkan namanya...Album yang berjudul Sebuah Nama Sebuah Cerita yang telah menampilkan 3 buah lagu baru iaitu Walau Habis Terang,Dilema Besar dan Tak Ada Yang Abadi...Memuatkan 30 buah lagu dari album sebelumnya dan 1 lagu dari allahyarham Chrisye iaitu Kisah Cintaku...Album tersebut akan dilancarkan pada 8/8/08...Mungkin pada tahun 2009 peterpan akan mendapat namanya yang baru...cara musiknya sama seperti juga seperti sebelumnya....